Musafirun menunggu kereta melintas. Dia ingin menuju suatu tempat. Kereta yang ditunggunya segera melintas dan berhenti di depannya setelah dia mengacungkan tangannya memberikan tanda berhenti. Dia duduk di antara penumpang yang ada. Setengah perjalanan terjadilah keanehan yang tak dibisa dibaca oleh logika sadar. Salah satu penumpang itu menjerit kesakitan. Dia memegang dadanya yang berdarah. Penumpang lain menjadi bergaduh.
”Ada apa? Mengapa lukamu berdarah? Siapa yang melukaimu?”
Belum sempat orang yang luka itu menjawab. Dia meraung sekali lagi. Teriakan kematiannya. Penumpang pun heboh.
”Pak supir, hentikan keretanya.”
Penumpang terus saja bergaduh. Akhirnya pak supir memberhentikan keretanya. Penumpang kereta lari berserabutan mencari selamat. Satu per satu dari mereka jatuh bergulingan seraya memekik. Pekikan kematian. Serangan kematian itu datang tak bisa diterka darimana asalnya. Teriakan minta tolong dari penumpang kereta yang tersisa terus bergema. Aku sudah merasakan getaran itu sedari tadi. Pembunuhan ini dilakukan melalui jalur alam bawah sadar orang. Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus cepat bertindak. Sebelum semuanya musnah dibantai pembunuh tak kelihatan ini.
Aku duduk bersila. Menghaturkan bakti pada Allah dengan segenap jiwa raga. Mengeluarkan ilmu batin yang kumiliki. Tak lupa aku memakai ilmu hikmah bagian terdalam. Ilmu keyakinan.
Alhamdulillah. Aku sudah mengetahui siapa pelakunya. Pelakunya adalah seorang wanita tua yang masih kelihatan kerutan kecantikannya. Karena tidak tahu namanya. Aku menyebutnya wanita pembunuh. Dengan keyakinan mantap kusambangi dia yang sering berpindah-pindah tempat dalam melakukan pembunuhan.
”Hentikan kebrutalanmu. Hentikan pembunuhanmu pada mahluk Allah yang tidak berdosa ini.”
Dia kaget, karena aku dapat melihat dirinya secara utuh.
”Mengapa harus kuhentikan. Ini adalah kesenanganku. Siapa kamu yang berani melarang kegemaranku. Mau cari mampus ya?”
”Aku adalah hamba Allah. Hamba Allah yang akan menghentikan kesenanganmu. Kesenangan untuk selalu berbuat keonaran dan dosa.”
”Hehe... Punya nyali juga kamu anak muda. Aku ingin lihat seberapa hebat kamu punya ilmu. ” Habis dia berkata begitu. Wanita pembunuh itu melancarkan serangannya. Serangan kukunya yang tajam mengarah tepat di jantungku.
Wah, dia memang benar menginginkan kematianku. Tidak akan kubiarkan. Aku sedikit menyampingkan badanku menghindari serangannya. Lalu aku melambung tinggi. Wanita pembunuh mencecarku. Dia terus melakukan serangan yang bertubi-tubi. Seakan-akan dia tidak memberikan ruangan untukku membalas serangannya.
Aku harus lepas dari kungkungan serangannya ini. Kalau tidak aku akan mati konyol.
Aku mulai menggunakan jurus silat ketiga belas. Dengan menggunakan jurus ini aku dapat melepaskan diri dari serangannya yang bertubi-tubi. Sesekali aku membalas serangannya. Pertarungan itu berlangsung seru. Kemudian wanita pembunuh itu mengeluarkan ilmu andalannya. Aku terkejut. Ilmu pukulannya sungguh dahsyat. Hawanya saja sudah menyesakkan pernapasanku apalagi pukulannya. Akan cepat membuatku modar.
Aku juga tidak tanggung-tanggung merapal doa ayatul kursi. Tangan kami masing-masing bergetar. Kelihatan warna pukulannya berwarna kuning. Sedangkan pukulanku berwarna putih. Wanita pembunuh itu segera melepaskan pukulannya, aku juga. Pukulan itu bertemu di tengah jalur lurus pukulan yang kami lepaskan. Ledakan tak bisa dihindari dari beradunya dua pukulan hebat itu. Aku tercampak dengan napas ngos-ngosan. Wanita pembunuh juga tercampak. Di sela-sela bibirnya mengeluarkan cairan darah. Rupanya dia terluka dalam. Dia berdiri saja sudah sempoyongan. Aku memperhatikannya. Menunggu pukulan apalagi yang ingin dilancarkannya. Wanita pembunuh hanya memandangku sayu. Setelah itu wanita pembunuh melarikan diri. Aku mengejarnya. Tetapi aku kehilangan jejaknya. Aku bingung mencari dia kemana lagi.
Petaka ini tidak akan berakhir kalau dia masih hidup. Aku harus mencari dia sampai dapat. Aku harus membasminya. Mungkin dia memasuki jalan ini.
Aku pun mengikuti jalan yang kelihatan bagus itu. Jalan itu menuju pasar.
Suasana pasar begitu ramainya. Orang-orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Aktivitas pembelian dan penjualan terlihat nyata. Aku terus melewati keramaian itu. Santai-santai saja. Sambilan aku memikir. Jalan mana lagi harus kutempuh untuk mencari wanita pembunuh itu.
Saat aku dalam kebingungan itu. Seorang wanita menepukku. Aku kaget mendapatkan tepukan darinya. Aku terperangah. Wanita itu mirip dengan wanita pembunuh. Wanita ini lebih muda dari wanita pembunuh. Jangan-jangan dia mengelabui pandangan mataku. Dia menggunakan ilmu malih rupa. Dapat merubah wujud seperti apa saja yang diinginkannya. Benarkah ilmu langka itu ada? Bisa saja. Aku harus waspada. Aku mengucap astaghfirullah, subhanallah, dan masya allah. Wajah wanita itu masih saja tidak berubah menjadi tua. Dia tetap menjadi wanita muda yang cantik dan menarik. Wah, dia bukan wanita pembunuh. Aku harus tetap waspada.
”Assamualaikum Musafirun, jangan kaget begitu,” katanya santun dan merdu terdengar di telinga. Dia kelihatan lunak dan lembut. Dia begitu ramah. Dia begitu anggun.
Aku terperanjat karena dia tahu namaku. Darimana dia tahu namaku. Apakah dia muridnya wanita pembunuh? Wajahnya sama sih. Jangan-jangan ini sebuah jebakan agar aku menjadi lengah. Bismillah. Aku ucapkan kata itu untuk mengusir kegundahan ini.
”Waalaikumsalam. Maaf kamu siapa?” jawabku.
”Aku adalah seorang utusan dari seseorang yang ingin berdamai denganmu. Dia telah mengaku salah. Sekarang dia telah kembali kepada jalan kebenaran. Dia sebenarnya pernah berseteru denganmu.”
”Seorang utusan. Utusan siapa?”
”Seseorang yang kamu sebut dengan wanita pembunuh.”
”Wanita pembunuh?”
”Hahahaha.....” Aku tertawa lepas. Tertawa senang.
Dicari jauh-jauh, tidak tahu ada orang yang tahu keberadaannya. Mujur sekali aku hari ini.
”Kebetulan sekali. Aku memang mencarinya. Aku ingin mengakhiri kebejatannya dalam membunuh orang yang tidak berdosa. Pasti kamu tahu dimana dia berada. Kamu tunjukkan dimana dia berada.”
”Aku memang tahu dimana dia berada. Tetapi aku tidak akan memberitahukannya kepadamu. Sebelum kamu memberikan keputusanmu. Apakah kamu bisa menerima kata damainya?”
”Tidak. Aku tidak ingin berdamai dengannya.”
”Mengapa tidak bisa?”
”Karena dosanya sudah selangit tembus.”
”Oh, begitu. Walau dia sudah bertobat sekalipun.”
”Ya... ”
”Sebenarnya siapa sih kamu yang terus mengotot minta dia berdamai denganku?”
”Aku adalah muridnya. Perlu kamu ketahui bahwa guruku sudah bertobat di depan gurumu. Mereka sudah baikan. Ini sebenarnya hanya kesalahpahaman di masa muda. Guruku melakukan perbuatan itu untuk memancing gurumu agar dapat keluar. Menuntaskan perseteruan mereka di masa muda. Perseteruan asmara. Kalau mau tahu jelas perseteruan asmara antara gurumu dengan guruku tanyakan saja langsung ke gurumu. Musafirun, gurumu saja dapat berdamai dengan guruku. Mengapa kamu tidak bisa? Gurumu saja dapat memaafkan kesalahan guruku. Mengapa kamu tidak bisa?”
”Aku tidak percaya denganmu. Kamu membual. Masak guruku dapat menerima orang yang telah berdosa besar. Tidak. Aku akan tetap mencarinya dan akan membunuhnya. Dia harus mati.”
”Ingat, Musafirun. Kematian seseorang ada di tangan Allah. Bukan ditangan kamu yang hanya hamba-Nya. Allah, dan gurumu yang alim saja bisa memaafkan kesalahan guruku. Masak kamu sebagai muridnya saja tidak bisa. Ingat Musafirun, kendalikan napsumu yang saat ini sudah dilingkupi perbuatan setan.
Kalau memang kamu kurang puas dengan perlakuan guruku. Aku bisa mewakilinya. Hukumlah diriku sepuas hatimu seperti apa yang akan kamu timpakan pada guruku. Aku akan ikhlas menerimanya. Kalau itu memang dapat memuaskan hatimu. ” Dia masih lemah lembut berbicara. Senyuman manisnya tak pernah pupus dari bibir ranumnya. Dia mulai pasrah kepada nasibnya. Dia rela dibunuh untuk menggantikan posisi gurunya.
Aku tersadar. Keimananku mencuat bangga. Subhanallah. Aku sudah terkhilaf. Sempat-sempatnya setan memperdayaiku. Aku mulai merasa bersalah di depannya. Aku mulai salut dengan keberaniannya. Berani berkorban untuk gurunya. Inikah bukti pengabdian seorang murid kepada seorang gurunya.
”Maafkan kekhilafanku tadi, Nona. Terima kasih atas kesadaran yang kamu berikan padaku.”
”Syukurlah, kamu dapat mengerti. Alhamdulillah, yaa Allah atas anugerah-Mu ini. Musafirun, guru kitakan sudah rujukan. Dapatkan kita saling bersahabat dan mengikat tali ikatan yang mendalam di antara kita?”
Kalau bersahabat sih aku akan menerimanya dengan senang hati. Ikatan mendalam. Ikatan mendalam seperti apa ya?
”Oke, kalau bersahabat sih dengan senang hati aku menerimanya. Oh ya, namamu siapa sih?”
”Ya...Ya... Aku lupa mengenalkan namaku padamu. Namaku Rembulan Putih. ”
”Nama yang bagus sekali. Seputih perilaku orangnya.”
”Ah, kamu jangan menyanjungku seperti itu. Aku jadi tersanjung. Bisa gawat kalau aku jadi tersanjung. Bisa-bisa saja aku langsung memeluk dan menciummu.”
”Yang benar?”
Tidak aku sangka dia sudah memelukku. Sepasang bibir ranumnya telah melabuhkan ciumannya ke pipiku. Aku memerah. Keringatanku berjatuhan. Baru sekali ini aku dipeluk dan dicium oleh seorang gadis. Wah, gawat urusannya kalau begini. Tujuh kali dia tersanjung, tujuh kali juga dia akan memeluk dan menciumku. Bisa bonyok aku.
”Maaf aku ketelepasan,” katanya malu-malu. Tapi matanya masih memancarkan binar-binar kebeningan itu.
”Maaf ya Bulan. Aku pergi dulu,” kataku tak menunggu jawabannya.
”Tunggu dulu, Musafirun. Aku ikut kamu. Gimana tawaran tentang jalinan ikatan mendalam di antara kita,” serunya mengejarku.
”Entahlah. Aku tidak tahu,” sahutku dari kejauhan.
~~~oooOooo~~~
”Ada apa? Mengapa lukamu berdarah? Siapa yang melukaimu?”
Belum sempat orang yang luka itu menjawab. Dia meraung sekali lagi. Teriakan kematiannya. Penumpang pun heboh.
”Pak supir, hentikan keretanya.”
Penumpang terus saja bergaduh. Akhirnya pak supir memberhentikan keretanya. Penumpang kereta lari berserabutan mencari selamat. Satu per satu dari mereka jatuh bergulingan seraya memekik. Pekikan kematian. Serangan kematian itu datang tak bisa diterka darimana asalnya. Teriakan minta tolong dari penumpang kereta yang tersisa terus bergema. Aku sudah merasakan getaran itu sedari tadi. Pembunuhan ini dilakukan melalui jalur alam bawah sadar orang. Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus cepat bertindak. Sebelum semuanya musnah dibantai pembunuh tak kelihatan ini.
Aku duduk bersila. Menghaturkan bakti pada Allah dengan segenap jiwa raga. Mengeluarkan ilmu batin yang kumiliki. Tak lupa aku memakai ilmu hikmah bagian terdalam. Ilmu keyakinan.
Alhamdulillah. Aku sudah mengetahui siapa pelakunya. Pelakunya adalah seorang wanita tua yang masih kelihatan kerutan kecantikannya. Karena tidak tahu namanya. Aku menyebutnya wanita pembunuh. Dengan keyakinan mantap kusambangi dia yang sering berpindah-pindah tempat dalam melakukan pembunuhan.
”Hentikan kebrutalanmu. Hentikan pembunuhanmu pada mahluk Allah yang tidak berdosa ini.”
Dia kaget, karena aku dapat melihat dirinya secara utuh.
”Mengapa harus kuhentikan. Ini adalah kesenanganku. Siapa kamu yang berani melarang kegemaranku. Mau cari mampus ya?”
”Aku adalah hamba Allah. Hamba Allah yang akan menghentikan kesenanganmu. Kesenangan untuk selalu berbuat keonaran dan dosa.”
”Hehe... Punya nyali juga kamu anak muda. Aku ingin lihat seberapa hebat kamu punya ilmu. ” Habis dia berkata begitu. Wanita pembunuh itu melancarkan serangannya. Serangan kukunya yang tajam mengarah tepat di jantungku.
Wah, dia memang benar menginginkan kematianku. Tidak akan kubiarkan. Aku sedikit menyampingkan badanku menghindari serangannya. Lalu aku melambung tinggi. Wanita pembunuh mencecarku. Dia terus melakukan serangan yang bertubi-tubi. Seakan-akan dia tidak memberikan ruangan untukku membalas serangannya.
Aku harus lepas dari kungkungan serangannya ini. Kalau tidak aku akan mati konyol.
Aku mulai menggunakan jurus silat ketiga belas. Dengan menggunakan jurus ini aku dapat melepaskan diri dari serangannya yang bertubi-tubi. Sesekali aku membalas serangannya. Pertarungan itu berlangsung seru. Kemudian wanita pembunuh itu mengeluarkan ilmu andalannya. Aku terkejut. Ilmu pukulannya sungguh dahsyat. Hawanya saja sudah menyesakkan pernapasanku apalagi pukulannya. Akan cepat membuatku modar.
Aku juga tidak tanggung-tanggung merapal doa ayatul kursi. Tangan kami masing-masing bergetar. Kelihatan warna pukulannya berwarna kuning. Sedangkan pukulanku berwarna putih. Wanita pembunuh itu segera melepaskan pukulannya, aku juga. Pukulan itu bertemu di tengah jalur lurus pukulan yang kami lepaskan. Ledakan tak bisa dihindari dari beradunya dua pukulan hebat itu. Aku tercampak dengan napas ngos-ngosan. Wanita pembunuh juga tercampak. Di sela-sela bibirnya mengeluarkan cairan darah. Rupanya dia terluka dalam. Dia berdiri saja sudah sempoyongan. Aku memperhatikannya. Menunggu pukulan apalagi yang ingin dilancarkannya. Wanita pembunuh hanya memandangku sayu. Setelah itu wanita pembunuh melarikan diri. Aku mengejarnya. Tetapi aku kehilangan jejaknya. Aku bingung mencari dia kemana lagi.
Petaka ini tidak akan berakhir kalau dia masih hidup. Aku harus mencari dia sampai dapat. Aku harus membasminya. Mungkin dia memasuki jalan ini.
Aku pun mengikuti jalan yang kelihatan bagus itu. Jalan itu menuju pasar.
Suasana pasar begitu ramainya. Orang-orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Aktivitas pembelian dan penjualan terlihat nyata. Aku terus melewati keramaian itu. Santai-santai saja. Sambilan aku memikir. Jalan mana lagi harus kutempuh untuk mencari wanita pembunuh itu.
Saat aku dalam kebingungan itu. Seorang wanita menepukku. Aku kaget mendapatkan tepukan darinya. Aku terperangah. Wanita itu mirip dengan wanita pembunuh. Wanita ini lebih muda dari wanita pembunuh. Jangan-jangan dia mengelabui pandangan mataku. Dia menggunakan ilmu malih rupa. Dapat merubah wujud seperti apa saja yang diinginkannya. Benarkah ilmu langka itu ada? Bisa saja. Aku harus waspada. Aku mengucap astaghfirullah, subhanallah, dan masya allah. Wajah wanita itu masih saja tidak berubah menjadi tua. Dia tetap menjadi wanita muda yang cantik dan menarik. Wah, dia bukan wanita pembunuh. Aku harus tetap waspada.
”Assamualaikum Musafirun, jangan kaget begitu,” katanya santun dan merdu terdengar di telinga. Dia kelihatan lunak dan lembut. Dia begitu ramah. Dia begitu anggun.
Aku terperanjat karena dia tahu namaku. Darimana dia tahu namaku. Apakah dia muridnya wanita pembunuh? Wajahnya sama sih. Jangan-jangan ini sebuah jebakan agar aku menjadi lengah. Bismillah. Aku ucapkan kata itu untuk mengusir kegundahan ini.
”Waalaikumsalam. Maaf kamu siapa?” jawabku.
”Aku adalah seorang utusan dari seseorang yang ingin berdamai denganmu. Dia telah mengaku salah. Sekarang dia telah kembali kepada jalan kebenaran. Dia sebenarnya pernah berseteru denganmu.”
”Seorang utusan. Utusan siapa?”
”Seseorang yang kamu sebut dengan wanita pembunuh.”
”Wanita pembunuh?”
”Hahahaha.....” Aku tertawa lepas. Tertawa senang.
Dicari jauh-jauh, tidak tahu ada orang yang tahu keberadaannya. Mujur sekali aku hari ini.
”Kebetulan sekali. Aku memang mencarinya. Aku ingin mengakhiri kebejatannya dalam membunuh orang yang tidak berdosa. Pasti kamu tahu dimana dia berada. Kamu tunjukkan dimana dia berada.”
”Aku memang tahu dimana dia berada. Tetapi aku tidak akan memberitahukannya kepadamu. Sebelum kamu memberikan keputusanmu. Apakah kamu bisa menerima kata damainya?”
”Tidak. Aku tidak ingin berdamai dengannya.”
”Mengapa tidak bisa?”
”Karena dosanya sudah selangit tembus.”
”Oh, begitu. Walau dia sudah bertobat sekalipun.”
”Ya... ”
”Sebenarnya siapa sih kamu yang terus mengotot minta dia berdamai denganku?”
”Aku adalah muridnya. Perlu kamu ketahui bahwa guruku sudah bertobat di depan gurumu. Mereka sudah baikan. Ini sebenarnya hanya kesalahpahaman di masa muda. Guruku melakukan perbuatan itu untuk memancing gurumu agar dapat keluar. Menuntaskan perseteruan mereka di masa muda. Perseteruan asmara. Kalau mau tahu jelas perseteruan asmara antara gurumu dengan guruku tanyakan saja langsung ke gurumu. Musafirun, gurumu saja dapat berdamai dengan guruku. Mengapa kamu tidak bisa? Gurumu saja dapat memaafkan kesalahan guruku. Mengapa kamu tidak bisa?”
”Aku tidak percaya denganmu. Kamu membual. Masak guruku dapat menerima orang yang telah berdosa besar. Tidak. Aku akan tetap mencarinya dan akan membunuhnya. Dia harus mati.”
”Ingat, Musafirun. Kematian seseorang ada di tangan Allah. Bukan ditangan kamu yang hanya hamba-Nya. Allah, dan gurumu yang alim saja bisa memaafkan kesalahan guruku. Masak kamu sebagai muridnya saja tidak bisa. Ingat Musafirun, kendalikan napsumu yang saat ini sudah dilingkupi perbuatan setan.
Kalau memang kamu kurang puas dengan perlakuan guruku. Aku bisa mewakilinya. Hukumlah diriku sepuas hatimu seperti apa yang akan kamu timpakan pada guruku. Aku akan ikhlas menerimanya. Kalau itu memang dapat memuaskan hatimu. ” Dia masih lemah lembut berbicara. Senyuman manisnya tak pernah pupus dari bibir ranumnya. Dia mulai pasrah kepada nasibnya. Dia rela dibunuh untuk menggantikan posisi gurunya.
Aku tersadar. Keimananku mencuat bangga. Subhanallah. Aku sudah terkhilaf. Sempat-sempatnya setan memperdayaiku. Aku mulai merasa bersalah di depannya. Aku mulai salut dengan keberaniannya. Berani berkorban untuk gurunya. Inikah bukti pengabdian seorang murid kepada seorang gurunya.
”Maafkan kekhilafanku tadi, Nona. Terima kasih atas kesadaran yang kamu berikan padaku.”
”Syukurlah, kamu dapat mengerti. Alhamdulillah, yaa Allah atas anugerah-Mu ini. Musafirun, guru kitakan sudah rujukan. Dapatkan kita saling bersahabat dan mengikat tali ikatan yang mendalam di antara kita?”
Kalau bersahabat sih aku akan menerimanya dengan senang hati. Ikatan mendalam. Ikatan mendalam seperti apa ya?
”Oke, kalau bersahabat sih dengan senang hati aku menerimanya. Oh ya, namamu siapa sih?”
”Ya...Ya... Aku lupa mengenalkan namaku padamu. Namaku Rembulan Putih. ”
”Nama yang bagus sekali. Seputih perilaku orangnya.”
”Ah, kamu jangan menyanjungku seperti itu. Aku jadi tersanjung. Bisa gawat kalau aku jadi tersanjung. Bisa-bisa saja aku langsung memeluk dan menciummu.”
”Yang benar?”
Tidak aku sangka dia sudah memelukku. Sepasang bibir ranumnya telah melabuhkan ciumannya ke pipiku. Aku memerah. Keringatanku berjatuhan. Baru sekali ini aku dipeluk dan dicium oleh seorang gadis. Wah, gawat urusannya kalau begini. Tujuh kali dia tersanjung, tujuh kali juga dia akan memeluk dan menciumku. Bisa bonyok aku.
”Maaf aku ketelepasan,” katanya malu-malu. Tapi matanya masih memancarkan binar-binar kebeningan itu.
”Maaf ya Bulan. Aku pergi dulu,” kataku tak menunggu jawabannya.
”Tunggu dulu, Musafirun. Aku ikut kamu. Gimana tawaran tentang jalinan ikatan mendalam di antara kita,” serunya mengejarku.
”Entahlah. Aku tidak tahu,” sahutku dari kejauhan.
~~~oooOooo~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar